Sulaiman (bahasa Arab: سُليمان Sulaymān), Nama Sulaiman disebutkan dalam Al-Qur'an (kitab suci Islam) sebanyak tujuh belas kali dan kisahnya disebutkan dalam Surah Al-Baqarah (2): 102, Al-Anbiya' (21): 78-82, An-Naml (27): 15-44, Saba' (34): 12-14, dan Shad (38): 30-40. Keterangan mengenai Sulaiman juga terdapat dalam riwayat hadits dan literatur Rabinik.
Disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa saat Dawud masih hidup, ada seorang yang mengadu bahwa kebun anggur miliknya dirusak oleh kambing-kambing. Kemudian disebutkan bahwa Sulaiman memberikan keputusan yang lebih tepat terkait permasalahan tersebut. Para ulama memberikan keterangan terkait ayat tersebut bahwa ada pihak yang mengadu pada Dawud lantaran kebun anggurnya dirusak dan dimakan oleh kambing-kambing. Dawud memberikan keputusan bahwa pemilik kebun akan diberi ganti rugi. Namun Sulaiman berpendapat bahwa pemilik kambing harus menyerahkan kambingnya sementara kepada pemilik kebun, sehingga pemilik kebun tersebut dapat memanfaatkan kambing tersebut, seperti diambil air susunya. Sementara itu, pemilik kambing harus memperbaiki kebun itu sampai seperti sedia kala. Setelah pemilik kambing memperbaiki kebun, maka barulah kambing-kambingnya akan dikembalikan padanya. Dawud kemudian sepakat dengan pemikiran putranya.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa Sulaiman memahami bahasa binatang, seperti burung dan semut. Disebutkan bahwa seekor semut memperingatkan kawanannya untuk kembali ke sarang agar tidak diinjak Sulaiman dan bala tentaranya. Sulaiman yang mendengar dan memahami perkataan semut tersebut tersenyum dan tertawa, kemudian memanjatkan syukur kepada Allah. Sulaiman juga mampu bercakap-cakap dengan burung hud-hud dan berbicara dengan jin.
Sulaiman juga disebutkan menghimpun bala tentaranya yang terdiri dari manusia, jin, dan burung, memerintahkan hud-hud membawa pesan dan menguping pembicaraan manusia, menawan setan dan memerintahkan mereka untuk membangun dan menyelam, mencairkan tembaga, memerintahkan bangsa jin untuk membuat hal yang dikehendaki Sulaiman, seperti gedung-gedung tinggi, patung-patung, dan piring-piring sebesar kolam.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa pada suatu sore, diperlihatkan kuda-kuda yang jinak dan cepat larinya pada Sulaiman dan dia memperhatikan mereka sampai hilang dari pandangan. Setelahnya, Sulaiman memerintahkan agar kuda-kuda itu dibawa padanya dan dia kemudian mengusap leher dan kaki kuda-kuda tersebut.
Terdapat beberapa tafsiran terkait ayat ini. Tafsiran pertama menyebutkan bahwa yang "hilang dari pandangan" adalah matahari, sedangkan "mengusap leher dan kaki kuda" diartikan sebagai menyembelih atau memotong. Maknanya adalah Sulaiman memperhatikan pertunjukkan kuda-kuda tersebut hingga matahari terbenam. Hal itu membuat Sulaiman terlupa melaksanakan ibadah sore. Setelahnya, Sulaiman memerintahkan agar kuda-kuda tersebut disembelih karena telah melalaikannya dalam beribadah. Tafsiran kedua menyatakan bahwa yang "hilang dari pandangan" itu adalah kuda-kuda itu sendiri dan yang dimaksud "mengusap leher dan kaki kuda" adalah mengusap keringat dari kuda-kuda tersebut.
Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa Allah menundukkan angin yang dapat berhembus ke arah yang Sulaiman inginkan. Para ulama memberikan keterangan bahwa Sulaiman memiliki hamparan yang di atasnya terdapat rumah, istana, tenda, kuda, unta, dan berbagai perlengkapan perang. Saat hendak melakukan perjalanan, Sulaiman dapat memerintahkan angin mengangkat hamparan tersebut berikut segala yang ada di atasnya dan mengantarkan ke tempat yang dia inginkan, baik cepat maupun lambat. Disebutkan bahwa mukjizat angin ini dikaruniakan oleh Allah karena Sulaiman telah meninggalkan kuda-kudanya (lihat tafsiran pertama tentang kuda Sulaiman) untuk mencari ridha Allah.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa burung hud-hud mengabarkan pada Sulaiman bahwa dia baru datang dari negeri Saba', menjelaskan bahwa negeri tersebut dipimpin seorang perempuan yang memiliki singgasana besar, sedangkan dia dan kaumnya menyembah matahari. Al-Qur'an tidak menyebutkan nama dan gelar perempuan yang memerintah Saba' tersebut. Sebagian ulama menyebutkan bahwa dia adalah seorang ratu yang bernama Balqis atau Bilqis (bahasa Arab: بِلْقِيْس).
Sulaiman kemudian mengutus hud-hud menyampaikan sebuah surat pada Balqis yang berisikan agar dia datang padanya dalam keadaan berserah diri. Setelah berunding dengan para pembesar negeri, Balqis memutuskan untuk mengirim utusan yang membawa hadiah pada Sulaiman. Namun Sulaiman memerintahkan pada para utusan tersebut untuk kembali dan mengancam akan mengirimkan pasukan yang sangat kuat yang akan mengusir mereka dari negeri mereka.
Setelahnya, Sulaiman berunding dengan para pembesarnya, menanyakan apakah di antara mereka ada yang mampu membawa singgasana Balqis ke tempat Sulaiman. Jin ifrit mengajukan diri, menyatakan bahwa dirinya bisa membawa singgasana tersebut sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun ada pihak lain yang mengajukan diri, disebutkan bahwa dia memiliki ilmu dari kitab, mengatakan bahwa dia bisa mendatangkan singgasana tersebut dalam sekejap mata. Sebagian menyatakan bahwa dia adalah Ashif bin Barkiya, seorang menteri atau sekretaris dan masih terhitung sepupu Sulaiman. Pendapat lain menyebutkan bahwa dia adalah salah seorang ulama Bani Israil. Ada juga yang berpendapat bahwa dia adalah jin mukmin, dan ada yang mengatakan Jibril.
Setelah singgasana tersebut benar-benar didatangkan, Sulaiman memerintahkan agar singgasana tersebut diubah. Saat Balqis tiba dan menghadap Sulaiman, ditanyakan padanya, "Serupa inikah singgasanamu?" Balqis menjawab, "Seakan-akan itulah dia." Saat dipersilakan masuk istana Sulaiman, Balqis mengira akan melewati sebuah kolam sehingga dia menjinjing pakaiannya. Sulaiman menjelaskan bahwa itu adalah lantai yang terbuat dari kaca. Balqis kemudian menyatakan bahwa dirinya berserah diri pada Allah, Tuhan seluruh alam.
Dalam Tanakh dan Alkitab disebutkan bahwa Sulaiman memiliki tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik, banyak dari mereka adalah perempuan asing. Di hari tua, istri-istrinya ini mencondongkan hati Sulaiman pada dewa-dewa sesembahan para istrinya, membuat Sulaiman membangun tempat pemujaan dan mempersembahkan kurban untuk dewa-dewa tersebut.
Tidak ada keterangan dalam Al-Qur'an dan hadits mengenai Sulaiman yang melakukan penyembahan berhala dan pada umumnya tradisi Islam menolak keterangan tersebut. Namun keterangan dalam Al-Qur'an mengenai Sulaiman yang "tergeletak di atas kursinya" dikaitkan dengan penyembahan berhala dalam beberapa tafsiran. Disebutkan bahwa Allah menganugerahkan cincin pada Sulaiman yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan bangsa jin dan binatang. Namun suatu hari, setan bernama Shakhr (bahasa Arab: صخر, secara harfiah bermakna "batu") menyamar menjadi Sulaiman dan mengambil cincin tersebut, sehingga Sulaiman terusir dari istana dan hidup terlunta-lunta selama empat puluh hari. Setan tersebut kemudian membuang (atau menjatuhkan) cincin tersebut ke laut, ikan memakan cincin tersebut, nelayan menangkap ikan tersebut, dan nelayan tersebut menghidangkan ikan itu pada Sulaiman untuk makan. Setelah mendapat kembali cincinnya, Sulaiman mendapat kekuatan dan kekuasaannya kembali. Terusirnya Sulaiman selama empat puluh hari disebabkan karena ada istrinya yang melakukan penyembahan berhala di kediamannya selama empat puluh hari, meski Sulaiman sendiri tidak mengetahuinya.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa tidak ada yang mengetahui kematian Sulaiman, sampai tongkat penyangganya keropos dimakan rayap dan membuat tubuh Sulaiman jatuh tersungkur. Paraulama memberikan keterangan bahwa Sulaiman meninggal saat di ruang ibadah, sementara bangsa jin yang bekerja untuknya biasa masuk-keluar ruang ibadah. Saat tubuh Sulaiman tersungkur, mereka langsung keluar dan mengabarkan pada manusia bahwa Sulaiman telah wafat. Dalam keterangan lain disebutkan bahwa bangsa jin langsung melarikan diri dari tugas-tugas mereka. Sebagian ulama menyebutkan bahwa Sulaiman wafat saat berusia kisaran lima puluh tahun lebih, sebagian ulama menyebutkan angka 52 tahun. Alkitab menyebutkan bahwa Sulaiman berkuasa selama empat puluh tahun.
Sulaiman dipandang sebagai nabi dalam Islam. Dalam Al-Qur'an, dia disebut sebagai sosok yang diberi petunjuk, pemahaman akan hukum, kebijaksanaan, dan ilmu, sebaik-baik hamba, sangat taat pada Allah, dan memiliki tempat kembali yang baik dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah.
Sebagaimana para nabi yang lain, pesan ketauhidan (mengesakan Allah) dalam kisah Sulaiman juga sangat menonjol, seperti saat Sulaiman mengajak Balqis berserah diri kepada Allah. Tradisi Islam biasanya tidak menerima pernyataan bahwa Sulaiman menjadi penyembah berhala sebagaimana dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa Sulaiman tidak kafir, tetapi setanlah yang kafir dan mengajarkan sihir.
Disebutkan bahwa pada hari kiamat kelak, Allah menjadikan Sulaiman sebagai hujjah (alasan) bagi para penguasa dan orang kaya. Maknanya adalah orang-orang di hari kiamat kelak tidak bisa beralasan bahwa mereka tidak bisa beribadah karena disibukkan dengan kekayaan dan kekuasaan, lantaran Sulaiman yang kekuasaannya lebih besar dan kekayaannya lebih banyak saja tetap taat beribadah kepada Allah.

Komentar
Posting Komentar